Prasangka yang meletakkan vegetarian dalam satu kotak isme adalah sebuah konsep yang sudah saatnya ditanggalkan. Vegetarian dapat diuji dalam aspek apa pun, semua bukti memberi tahu kepada kita, krisis global yang membelit manusia saat ini adalah satu biang terbesar berpangkal pada pola makan dari sumber yang tidak efisien, sumber Hewani. Benar bahwa industri peternakan telah menjadi penggerak perekonomian dunia. Saat ini diperkirakan 987 juta orang miskin berhubungan dengan kegiatan peternakan dan 1,3 milyar manusia (20% populasi dunia) berhubungan dengan produksi peternakan. Peternakan menyumbang 1,4% produk domestik kotor (gross domestic products). Sekitar 864 juta orang menderita gizi buruk (catatan: secara salah kaprah konsumsi daging dianggap dapat menjadi solusi). Namun, 1 milyar orang kelebihan berat badan dan 300 juta orang lain menderita kegemukan. Memecahkan masalah kemiskinan (ekonomi) dan kebutuhan protein (kesehatan) dengan industri peternakan yang terbukti memiliki banyak dampak negatif, adalah menjerumuskan diri dan menciptakan lingkaran setan. Organisasi Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 2006 menerbitkan laporan jejak kelam ternak (Livestock’s Long Shadow). Adakah suatu generasi yang cukup bijak memutus lingkaran tersebut?
Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa jika Bumi menjadi neraka bagi para hewan maka tidaklah perlu dibahas dan dibesar-besarkan. Tetapi, bagaimana dengan data yang menyebutkan bahwa rata-rata setiap 3 detik satu anak mati di dunia karena kelaparan? Data lain menyebutkan setiap 2 detik, 1 anak mati karena kelaparan.1 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun akibat kekurangan gizi? Lebih dari tiga perempatnya terjadi di 20 negara miskin.2 Di Jawa Tengah 15.980 anak balita menderita gizi buruk.3 Mereka sepenuhnya berhak bertanya mengapa mereka dilahirkan. Jika data di atas disandingkan dengan data bahwa tahun 2001 McDonald menghabiskan dana 1,4 milyar dollar AS untuk promosi,4 maka sekali lagi para anak miskin memiliki hak sepenuhnya untuk bertanya, dunia macam apa yang harus mereka singgahi ini. Saat ini diperkirakan 1,1 miliar orang kegemukan (berlebihan makan) dan 1,1 miliar orang kurus kering (kurang gizi) di dunia.5 Kasus kegemukan tidak dimonopoli negara maju, namun juga dtemukan di negara berkembang dimana junk food outlets merajalela.
Jika saja spesies manusia cukup cerdas beradab, foto seperti ini tentu sulit ditemui. Anak ini tidak ditakdirkan untuk sengsara. Sesama spesies dialah yang telah merebut hak dia untuk makan. Daging diproduksi industri ternak yang boros energi dan bahan pangan. Setiap orang pemakan daging (biasanya berkecukupan) merampas setidaknya hak makan lima orang miskin (karena bahan makanan diberikan ke ternak).
Nova Maulana (2) dilaporkan menderita busung lapar Anak dari pasangan Wito Parjo-Sulami, seorang buruh tani miskin yang tinggal di dukuh Ringindadi RT 04 RW 5 Jenggrik, Kedawung, Sragen. Pendekatan ‘sistem energi’ akan mengarahkan kita ke penyediaan protein nabati (ramah lingkungan, hemat energi, bebas kekejaman) untuk mengatasi masalah kekurangan gizi daripada protein hewani. Sebuah gambaran generasi masa depan yang rentan penyakit, karena makanan mereka justru diberikan ke ternak untuk dikonsumsi sesama mereka yang lebih kaya. Ternak di Amerika saja mengkonsumsi bahan pangan yang dapat mengenyangkan 1,3 miliar manusia. (Foto berasal dari www.tempointeraktif.com yang terpasang di infoindonesia.wordpress.co
Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa jika Bumi menjadi neraka bagi para hewan maka tidaklah perlu dibahas dan dibesar-besarkan. Tetapi, bagaimana dengan data yang menyebutkan bahwa rata-rata setiap 3 detik satu anak mati di dunia karena kelaparan? Data lain menyebutkan setiap 2 detik, 1 anak mati karena kelaparan.1 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun akibat kekurangan gizi? Lebih dari tiga perempatnya terjadi di 20 negara miskin.2 Di Jawa Tengah 15.980 anak balita menderita gizi buruk.3 Mereka sepenuhnya berhak bertanya mengapa mereka dilahirkan. Jika data di atas disandingkan dengan data bahwa tahun 2001 McDonald menghabiskan dana 1,4 milyar dollar AS untuk promosi,4 maka sekali lagi para anak miskin memiliki hak sepenuhnya untuk bertanya, dunia macam apa yang harus mereka singgahi ini. Saat ini diperkirakan 1,1 miliar orang kegemukan (berlebihan makan) dan 1,1 miliar orang kurus kering (kurang gizi) di dunia.5 Kasus kegemukan tidak dimonopoli negara maju, namun juga dtemukan di negara berkembang dimana junk food outlets merajalela.
Jika saja spesies manusia cukup cerdas beradab, foto seperti ini tentu sulit ditemui. Anak ini tidak ditakdirkan untuk sengsara. Sesama spesies dialah yang telah merebut hak dia untuk makan. Daging diproduksi industri ternak yang boros energi dan bahan pangan. Setiap orang pemakan daging (biasanya berkecukupan) merampas setidaknya hak makan lima orang miskin (karena bahan makanan diberikan ke ternak).
Nova Maulana (2) dilaporkan menderita busung lapar Anak dari pasangan Wito Parjo-Sulami, seorang buruh tani miskin yang tinggal di dukuh Ringindadi RT 04 RW 5 Jenggrik, Kedawung, Sragen. Pendekatan ‘sistem energi’ akan mengarahkan kita ke penyediaan protein nabati (ramah lingkungan, hemat energi, bebas kekejaman) untuk mengatasi masalah kekurangan gizi daripada protein hewani. Sebuah gambaran generasi masa depan yang rentan penyakit, karena makanan mereka justru diberikan ke ternak untuk dikonsumsi sesama mereka yang lebih kaya. Ternak di Amerika saja mengkonsumsi bahan pangan yang dapat mengenyangkan 1,3 miliar manusia. (Foto berasal dari www.tempointeraktif.com yang terpasang di infoindonesia.wordpress.co
Kegemukan menyerang 10% anakanak di dunia, dan tidak hanya di negara maju. Obesitas meningkatkan risiko anak-anak terkena diabetes tipe 2, serangan jantung, stroke, dan kanker.
(Obesitas dikalangan Anak-anak Semakin Meresahkan”, Kompas, 20 April 2005. www2.kompas.com/kesehatan/
(Mcdonalds-review.blogspot
Sekedar gambaran generasi masa depan yang rentan penyakit karena terlalu banyak makan daging dari industri peternakan. Setiap pemakan daging membutuhkan tanah 20 kali lebih luas dibanding seorang vegan. (www.eatveg.com; 30/8/8)
Semakin tinggi konsumsi lemak, semakin besar kasus kematian akibat kanker usus besar. New Zealand adalah negara kecil kaya raya penghasil daging, mempunyai tingkat kematian akibat kanker usus besar tinggi seperti di Kanada dan Amerika. (K Carroll, ” Experimental Evidence of Dietary Factors and Hormone-Dependent Cancers”, Cancer Research 35:3374, 1975 dalam John Robbins, M.D. (a),” Diet for a New America”, Fitzhenry & Whiteside Ltd.: Toronto, 1987, h.255)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar